Terik matahari akhir Oktober 2025 terasa begitu menyengat. Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni (73) siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertanian mereka ke rumah Amaq Marni. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan diolah menjadi makanan tradisional sebagai pelengkap ritual tahunan masyarakat tani.
Di bawah tenda sederhana yang dipasang di halaman rumah, para perempuan tampak sibuk menampi beras, menyiapkan kelapa, dan mengaduk adonan ketan dalam wadah besar. Di sudut lain, sejumlah laki-laki bercengkerama sambil menyusun perlengkapan ritual. Aroma kayu bakar bercampur dengan suara obrolan warga yang datang silih berganti membawa hasil panen mereka.
Sementara itu dua hari setelahnya, kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan ketika satu per satu warga Desa Kesik mulai berjalan menuju sumber mata air di kaki perkampungan. Di tangan mereka terdapat dulang berisi hasil bumi: padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, dan kendi kecil yang akan diisi air dari mata air yang mereka jaga turun-temurun.
Bagi masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, perjalanan menuju mata air bukan sekadar prosesi budaya. Ia adalah perjalanan spiritual, perjalanan ekologis, sekaligus perjalanan sejarah yang diwariskan leluhur mereka selama puluhan tahun. Ritual itu dikenal dengan nama Nunas Nede. Sebuah tradisi tahunan masyarakat tani yang digelar menjelang pergantian musim dari kemarau menuju musim hujan.
Berawal dari Kekhawatiran
Di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian itu, perubahan musim bukan perkara sederhana. Hujan menentukan apakah sawah dapat ditanami, bibit padi mampu tumbuh, dan keluarga petani dapat bertahan hingga musim panen berikutnya. Ketika kemarau terlalu panjang, sumber mata air menyusut. Sawah retak. Petani mulai cemas. Karena itulah, ritual Nunas Nede lahir dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada akhir musim kemarau. Prosesi dimulai dengan pengambilan air dari tujuh mata air yang tersebar di wilayah Desa Kesik. Air dari tujuh sumber itu kemudian disatukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Ritual dilanjutkan dengan doa bersama, arak-arakan hasil bumi, zikir, serta makan bersama masyarakat.
Di balik ritual yang tampak sakral dan meriah itu, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam yaitu hubungan manusia dengan air.
Menurut berbagai catatan budaya dan penelitian akademik, Nunas Nede merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan agar hujan turun dan pertanian kembali subur. Namun bagi masyarakat Kesik, ritual ini juga menjadi pengingat bahwa air tidak akan pernah ada jika manusia berhenti menjaganya.

Mangku adat Desa Kesik, Amaq Marni, mengatakan ritual itu diwariskan oleh leluhur sebagai cara menjaga keseimbangan alam dan mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan mereka.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” ujar Amaq Marni saat Mongabay temui di sela prosesi ritual.
Bagi Amaq Marni, ritual adat tidak boleh dipahami hanya sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu merupakan bentuk komunikasi antara manusia dengan alam. Karena itu, setiap tahapan ritual memiliki makna tersendiri, mulai dari pengambilan air, membersihkan mata air, hingga menanam pohon di sekitar sumber air.
Tradisi tersebut juga menunjukkan bagaimana masyarakat Sasak di Desa Kesik membangun pengetahuan ekologis secara turun-temurun. Di tengah modernisasi pertanian dan perubahan pola hidup masyarakat desa, mereka tetap mempertahankan ritual yang menempatkan alam sebagai pusat kehidupan.
Pagi itu, warga berjalan beriringan menuju salah satu sumber mata air. Para perempuan membawa dulang berisi makanan tradisional. Anak-anak muda ikut membantu membawa perlengkapan ritual. Sementara para tetua adat memimpin doa dan pembacaan zikir.
Di sepanjang perjalanan, warga saling menyapa dan bercengkerama. Tidak ada sekat sosial. Semua melebur sebagai bagian dari masyarakat tani yang memiliki ketergantungan sama terhadap air dan tanah.
Suasana seperti itu membuat Nunas Nede tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga ruang memperkuat solidaritas sosial warga desa. Penelitian dari Universitas Mataram menyebut tradisi ini berfungsi mempererat hubungan sosial masyarakat sekaligus mempertahankan nilai gotong royong antar petani.
Kepala Desa Kesik, Muhamad Kadri, mengatakan masyarakat desa masih mempertahankan ritual tersebut karena mereka memahami betapa pentingnya air bagi kehidupan pertanian di Kesik.
“Kami hidup dari sawah. Kalau sumber air hilang, masyarakat akan kehilangan penghidupan. Jadi ritual ini bukan sekadar adat, tapi cara masyarakat menjaga kesadaran bersama tentang pentingnya air,” kata Kadri.
Menurutnya, Desa Kesik memiliki sejarah panjang sebagai desa agraris. Sebagian besar wilayah desa berupa lahan pertanian yang bergantung pada sistem irigasi dari sumber mata air alami. Karena itu, masyarakat sejak dulu memiliki aturan adat untuk melindungi kawasan mata air.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan iklim semakin besar. Musim hujan menjadi tidak menentu. Debit air di beberapa sumber mulai menurun. Sebagian petani mengaku mulai kesulitan menentukan waktu tanam.
Kondisi itu membuat ritual Nunas Nede terasa semakin relevan.
Bagi Amaq Sati, seorang petani yang sejak kecil mengikuti ritual tersebut, perubahan cuaca sekarang jauh berbeda dibanding masa lalu.
“Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat desa mulai merasakan dampak nyata perubahan lingkungan. Karena itu, ritual adat kini bukan hanya tentang tradisi leluhur, tetapi juga bentuk perlawanan masyarakat terhadap krisis ekologis yang perlahan datang.
Dalam ritual tersebut, masyarakat tidak hanya berdoa meminta hujan. Mereka juga membersihkan kawasan mata air, memungut sampah, memperbaiki saluran kecil, dan menanam pohon di sekitar sumber air. Aktivitas itu dilakukan bersama-sama oleh warga dari berbagai dusun.
Di salah satu sumber mata air, beberapa pemuda terlihat menyingkirkan ranting dan lumpur yang menghambat aliran air. Di sisi lain, perempuan menyiapkan makanan untuk disantap bersama setelah ritual selesai.
Gotong royong seperti itu menjadi bagian penting dalam tradisi Nunas Nede. Bagi warga Kesik, menjaga air bukan tugas individu, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.
Penelitian tentang ritual ini mencatat bahwa mata air dalam tradisi Nunas Nede dipandang sebagai simbol kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya.
Kesadaran ekologis itu lahir jauh sebelum isu perubahan iklim ramai dibicarakan. Masyarakat Desa Kesik telah memahami bahwa kerusakan hutan dan hilangnya vegetasi di sekitar mata air akan berdampak langsung terhadap kehidupan pertanian mereka.

Karena itu, beberapa kawasan mata air di Desa Kesik masih dipertahankan sebagai ruang yang tidak boleh dirusak sembarangan. Ada pohon-pohon besar yang tetap dibiarkan tumbuh. Ada area tertentu yang tidak boleh ditebang.
Bagi masyarakat, aturan adat semacam itu menjadi benteng terakhir menjaga keseimbangan lingkungan.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Nunas Nede memperlihatkan bahwa masyarakat desa masih memiliki cara sendiri untuk merawat hubungan manusia dengan alam. Mereka mungkin tidak menggunakan istilah konservasi atau mitigasi iklim, tetapi praktik yang mereka lakukan sesungguhnya adalah bentuk perlindungan lingkungan berbasis pengetahuan lokal.
Ritual itu juga memperlihatkan bagaimana budaya dan ekologi saling terhubung. Ketika tradisi hilang, maka pengetahuan tentang cara menjaga alam perlahan ikut menghilang.
Karena itu, bagi masyarakat Kesik, mempertahankan Nunas Nede berarti mempertahankan masa depan desa mereka sendiri.
Cara Menjaga Air
Prosesi pengambilan air dari tujuh mata air menjadi bagian paling sakral dalam ritual Nunas Nede. Air dari masing-masing sumber diambil menggunakan wadah khusus, lalu dibawa secara arak-arakan menuju lokasi utama ritual.
Tujuh mata air itu dipercaya sebagai sumber kehidupan masyarakat Desa Kesik sejak lama. Sebagian mengaliri sawah, sebagian lagi menjadi sumber kebutuhan rumah tangga warga. Karena itulah, masyarakat memandang mata air bukan sekadar sumber air biasa, melainkan ruang kehidupan yang harus dijaga bersama.
Dalam perjalanan menuju mata air, warga biasanya berhenti di beberapa titik untuk melakukan doa bersama. Tetua adat memimpin pembacaan doa, sementara masyarakat mengikuti dengan khidmat.
Di beberapa lokasi, warga juga melakukan ritual nyawik, menandai area mata air menggunakan simbol-simbol adat sambil memanjatkan harapan agar sumber air tetap lestari. Prosesi nyawik menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus bentuk pengingat agar masyarakat terus menjaga lingkungan sekitar mata air.
Bagi masyarakat Kesik, menjaga mata air tidak bisa dipisahkan dari menjaga hutan dan vegetasi di sekitarnya. Karena itu, setiap ritual tahunan selalu diikuti kegiatan penanaman pohon.

Amaq Marni mengatakan leluhur mereka sejak dulu telah mengingatkan bahwa hilangnya pepohonan akan membuat mata air mati perlahan.
“Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” katanya.
Pesan itu kini terasa semakin penting. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap lingkungan di banyak wilayah Lombok terus meningkat akibat alih fungsi lahan, pembangunan, dan perubahan pola cuaca.
Di Desa Kesik sendiri, masyarakat mulai menyadari bahwa keberadaan mata air tidak lagi bisa dianggap aman selamanya. Karena itu, ritual adat berkembang menjadi ruang edukasi lingkungan bagi generasi muda.
Anak-anak dan remaja desa dilibatkan dalam seluruh rangkaian ritual. Mereka diajak ikut membersihkan mata air, membawa hasil bumi, hingga mendengar cerita para tetua tentang sejarah sumber air di desa mereka.
Muhamad Kadri mengatakan pelibatan generasi muda menjadi hal penting agar pengetahuan lokal tidak hilang.
“Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya,” ujarnya.
Menurut Kadri, desa kini mulai mencoba menggabungkan kearifan lokal dengan pendekatan pembangunan desa berbasis lingkungan. Pemerintah desa mendukung pelestarian kawasan mata air sekaligus mendorong pengembangan wisata budaya berbasis ritual adat.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nunas Nede mulai dikenal lebih luas dan menarik perhatian masyarakat luar desa. Namun warga berusaha menjaga agar ritual itu tidak kehilangan makna utamanya.
Bagi masyarakat Kesik, ritual ini bukan pertunjukan wisata semata. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari petani.
Amak Sati mengatakan dirinya selalu ikut ritual sejak kecil karena merasa kehidupan keluarganya sangat bergantung pada keberadaan air.
“Kami ini hidup dari sawah. Kalau air tidak ada, kami tidak bisa tanam apa-apa,” katanya.
Ia mengingat masa-masa ketika debit air menurun saat kemarau panjang. Beberapa petani terpaksa menunda musim tanam karena saluran irigasi mengering.
Kondisi itu membuat masyarakat semakin sadar bahwa menjaga sumber air harus dilakukan bersama-sama, bukan hanya menunggu pemerintah.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Kesik memiliki berbagai aturan tidak tertulis terkait kawasan mata air. Ada larangan membuang sampah sembarangan, larangan menebang pohon tertentu, hingga kewajiban membersihkan area sumber air secara berkala.
Tradisi itu menunjukkan bagaimana masyarakat adat membangun sistem perlindungan lingkungan berbasis nilai budaya dan spiritualitas.
Penelitian tentang Nunas Nede menyebut simbol mata air dalam ritual tersebut merepresentasikan sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Karena itu, masyarakat memandang menjaga mata air sebagai kewajiban moral sekaligus spiritual.
Di tengah ancaman krisis iklim global, praktik-praktik lokal seperti yang dilakukan masyarakat Kesik menjadi penting untuk diperhatikan. Banyak komunitas adat di Indonesia sesungguhnya memiliki sistem pengetahuan ekologis yang lahir dari pengalaman hidup panjang bersama alam.
Mereka memahami tanda musim, mengenali perilaku air, dan mengetahui cara menjaga keseimbangan lingkungan tanpa harus bergantung pada teknologi modern.
Namun pengetahuan seperti itu perlahan mulai tergerus perubahan zaman.
Sebagian anak muda desa mulai bekerja di kota. Lahan pertanian perlahan menyusut. Pola hidup masyarakat juga berubah. Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat eksploitasi sumber daya alam semakin sulit dihindari.
Dalam situasi seperti itu, ritual Nunas Nede menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak boleh dibangun semata-mata atas dasar eksploitasi.
Air bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga sumber kebudayaan.
Karena itu, masyarakat Kesik percaya menjaga mata air berarti menjaga identitas mereka sendiri sebagai masyarakat tani.
Menjelang siang, prosesi ritual mencapai puncaknya di lokasi utama. Warga duduk melingkar menikmati hidangan hasil bumi yang mereka bawa bersama. Anak-anak berlarian di sekitar mata air. Sementara para tetua adat kembali memanjatkan doa.
Di tengah lantunan zikir dan suara gemericik air, ritual itu seolah menyampaikan satu pesan sederhana: manusia tidak pernah benar-benar hidup sendiri.
Dan selama masyarakat Kesik masih berjalan menuju tujuh mata air setiap tahun, selama itu pula ingatan tentang hubungan manusia dan alam akan terus hidup di desa kecil di kaki Lombok Timur tersebut.






