LOMBOK – Gerakan pelestarian pangan lokal melalui konsep slow food digaungkan dalam kegiatan Talk & Workshop Slow Food yang berlangsung di kebun Permakultur, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (8/6/2025). Kegiatan Kolaborasi yang melibatkan Geopark Rinjani Lombok, Ashtari, Permaculture Lombok, Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Nusa Tenggara Barat dan Slow Food Community Bibit Pusaka Bali.
Kegiatan ini melibatkan peserta yang berasal dari berbagai pihak antara lain pelajar, mahasiswa dan umum yang berasal dari SMK Entrepreneur Al Wasath Lombok Barat, Institut Teknologi Lombok, Komisi Irigasi Provinsi NTB. masyarakat. Indriyatno, pemilik Permaculture Lombok mendampingi para peserta untuk memahami kembali pentingnya ketahanan pangan lokal, keberlanjutan lingkungan melalui praktik langsung di kebun Permaculture, diskusi sambil menikmati olahan pangan lokal dan bagi-bagi bibit dari Bibit Pusaka Bali.

“Slow food bukan sekadar cara makan, tetapi cara hidup yang mendukung pangan lokal yang baik, bersih dari bahan kimia, serta adil bagi produsen dan konsumen,” ujar Sayu Komang, Slow Food Community Bali.
Konsep slow food sendiri lahir di Italia sebagai gerakan melawan dominasi makanan cepat saji. Di Indonesia, gerakan ini berkembang dengan menekankan prinsip baik, bersih, dan adil. Kegiatan slow food community di Bali juga fokus pada pelestarian pangan melalui pelestarian benih dan budaya pangan lokal.
Peserta workshop tidak hanya dikenalkan dengan bahan pangan lokal yang ada di Lombok, tetapi juga memahami asal-usul bahan tersebut, seperti umbi-umbian yang biasa digunakan masyarakat saat bencana, keterkaitan tanaman dengan kondisi geologi dan sharing pengalaman slow food community yang sudah berkembang di Bali. Selain itu, diperkenalkan pula sistem pertanian berkelanjutan berbasis agroekologi dan permakultur.
Dari sisi geologi, Meliawati Ang dari Ikatan Ahli Geologi Pengurus Daerah Nusa Tenggara Barat menjelaskan bahwa Lombok memiliki nilai geologis luar biasa, termasuk akibat letusan Gunung Samalas pada abad ke-13 yang mengubah topografi pulau dan menciptakan sistem hutan yang kaya flora-fauna endemik sebagai bagian dari Geopark Rinjani Lombok. Selain itu, akibat letusan ini menjadikan daerah di sekitarnya menjadi subur dan memiliki kekayaan pangan lokal.
Sementara itu, praktisi kuliner Made Masak menekankan pentingnya mengangkat bahan pangan lokal yang memiliki banyak ragam dengan pendekatan kreatif. Ia telah membangun Dapur Komunitas di Bali yang fokus pada pangan berbasis rumah tangga dan memperkenalkan menu khas dengan cita rasa internasional, namun tetap berbahan dasar lokal. Selain itu, juga bisa mendukung slow travel dengan mengajak wisatawan untuk ikut aktivitas masyarakat dan menghargai budaya termasuk cita rasa makanan lokal

“Setiap rumah bisa jadi pusat produksi makanan, bagaimana membuat ide kreatif dari apa yang ada disekitar kita sehingga menjadikan menu tradisional dengan konsep rumahan” kata Made.
Para peserta diajak berbagi pengalaman yang sudah dilakukan misalnya pemanfaatan pekarangan untuk mendorong ketahanan pangan lokal dari rumah tangga. “Gerakan ini ingin mengajak lebih banyak orang untuk berbagi apa yang sudah sudah dilakukan” ujar Sayu Komang.
Dengan melibatkan berbagai kalangan, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kemandirian pangan dan kelestarian budaya termasuk makanan lokal sebagai bagian dari solusi krisis iklim dan ketahanan pangan masa depan.
Pewarta : Juraidah Dwi Anggraini








