tebetutur.id
No Result
View All Result
Jumat, 28 Agustus 2026
  • Login
  • Home
  • Warta
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Liputan Khusus
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Kolom
  • Infografis
  • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
Langganan
tebetutur.id
  • Home
  • Warta
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Liputan Khusus
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Kolom
  • Infografis
  • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
tebetutur.id
Home Kolom

DUA TENGIS HEROIK DARI CABO VEDE DAN IRAN

Juli 5, 2026
Reading Time: 5 mins read
A A
0
DUA TENGIS HEROIK DARI CABO VEDE DAN IRAN
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Saya menyaksikan ada dua tangis heroik pekan ini. Tangis pertama, datang dari para pemain Cabo Verde dan suporternya. Tangis kedua, datang dari para petinggi Iran dan rakyatnya. Cabo Verde, mendadak viral setelah penampilan hebatnya saat melawan Argentina. Sedangkan Iran menjadi sorotan dunia karena sedang melalukan proses pemakaman pemimpin besarnya Ayatollah Ali Khamanei. 

PostinganTerkait

No Content Available

Mula-mula, saya tak menduga tim debutan Cabo Verde bisa tampil segemilang itu  meladeni sang juara bertahan Argentina. Mereka bermain tanpa rasa takut. Tak gentar. Memberikan perlawanan sengit hingga ujung laga. Tak ayal, Messi dan kompatriotnya merasa frutsrasi. Pertandingan ini, menurut saya, layak dinobatkan sebagai  laga  terbaik di fase 32 besar pada gelaran piala dunia 2026. 

Meskipun akhirnya Cabo Verde kalah. Namun laga itu, menurut saya, mutlak menjadi panggung Cabo Verde. Mereka menujukkan kepada dunia, telah berjuang sehormat-hormatnya.  Penampilan mereka membuat Piala Dunia terlihat begitu bergairah. Mereka memenangkan jutaan hati para pencinta sepakbola dunia. Kegemilangan Cabo Verde itu, tentu saja tak bisa dilepaskan dari peran Pedro Leitao Brito. Sang master mind, arsitek di pinggir lapangan yang membuat permainan tim blue shark menjadi sangat taktis, agressif, dan solid. Sebelum piala dunia, tak banyak yang tahu tentang Cabo Verde. Negara kecil dengan luas hanya 4.033 kilometer persegi ini hanya numpang nyempil di peta dunia. Luput dari perhatian publik.  Namun kini, mata dunia terbuka, negara kecil itu diam-diam sedang membangun kekuatan sepak bolanya.

Selama ini, kisah Cabo Verde melekat pada narasi perdagangan budak trans-Atlantik. Negara  yang pernah dijajah Portugal ini terdiri dari pulau-pulau vulkanik yang rentan mengalami kekeringan, dan menimbulkan kelaparan. Dengan kondisi alam yang ekstrem semacam itu, banyak orang mengira penduduk Cabo Verde harusnya sudah punah. Namun sebaliknya, mereka tetap bertahan. Mereka tak membiarkan keterbatasan geografis menentukan masa depannya. Mereka membuktikan bahwa ukuran wilayah tidak menentukan kebesaran sebuah bangsa, kekayaan alam tidak menentukan takdir sejarah, dan masa lalu yang penuh tantangan bukanlah akhir dunia. 

Perjalanan Cabo Verde di Piala Dunia memiliki makna  melampaui sepak bola. Melainkan tentang sebuah bangsa yang lahir dari perjumpaan dua dunia: Afrika dan Eropa (Portugis). Identitas nasionalnya dibentuk oleh warisan budaya Afrika, dan jejak sejarah kolonial Portugis. Sejak  merdeka pada tahun1975, masyarakat Cabo Verde  hidup sebagai subyek pasca kolonial. Mereka berdiaspora ke berbagai negara. Mereka tersebar di Portugal, Prancis, Belanda, Luxemburg, Italia, Amerika Serikat, Brasil, hingga berbagai negara Afrika.  Karena itu, banyak pemain tim nasional lahir atau dibesarkan di Eropa, namun memilih mengenakan seragam biru Cabo Verde sebagai bentuk ikatan emosional dengan tanah leluhur mereka. Pada titik ini, Cabo Verde dibangun di atas identitas Postnational. Artinya, Cabo Verde tidak hanya berada di dalam wilayah teritorialnya, tetapi juga diproduksi dan dihidupi oleh komunitas diaspora di seluruh dunia. 

Dari lapangan hijau piala dunia, perhatian saya berubah ke pemakaman Ali Khamanei, Rahbar Republik Islam Iran. Melalui layar kaca, saya menyaksikan ribuan warga Iran memadati jalan-jalan menuju lokasi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Lautan manusia berpakaian hitam mengiringi prosesi dengan air mata. Di tengah berbagai sorotan media internasional yang selama bertahun-tahun menggambarkan Iran sebagai negara yang penuh gejolak politik dan tuduhan rezim Khamenei otoriter, pemandangan tersebut menghadirkan pertanyaan: mengapa begitu banyak orang menangis?

Mungkin kita boleh beranggapan bahwa tangisan itu hanyalah ekspresi politik dari para pendukung rezim. Namun, emosi kolektif tidak lahir hanya dari instruksi politik. Kesedihan publik sering kali merupakan hasil dari hubungan panjang antara seorang pemimpin, identitas nasional, agama, dan sejarah. Dalam momen-momen tertentu masyarakat mengalami apa yang disebut collective effervescence, yakni ledakan emosi bersama yang memperkuat rasa solidaritas. Upacara pemakaman Khamanei menjadi ruang di mana individu melebur ke dalam identitas kolektif: “kami adalah bangsa Iran”. 

Tangisan itu juga merupakan ledakan panjang dari pengalaman intervensi Barat, embargo ekonomi, dan penghinaan terhadap kedaulatan nasional selama penyerangan oleh Israel-Amerika. Karena itu, ketika banyak warga Iran menangisi wafatnya Khamenei, hal ini juga merupakan ekspresi dari memori sejarah mengenai revolusi, perang, embargo ekonomi, dan perlawanan terhadap dominasi asing. Politik dan memori saling bertaut dalam satu ruang emosional.

Terlepas dari berbagai dinamika politik internal. Bagi Sebagian besar rakyat Iran, Khamanei tetap dipandang sebagai penjaga kedaulatan negara dan identitas revolusi. Dalam hal ini, legitimasi  Khamanei terbangun melalui simbol dan narasi. Tangisan para petinggi dan ribuan warga Iran menunjukkan bagaimana politik, agama, sejarah, dan identitas nasional bertemu dalam satu ruang yang sama.  

Hamid Dabashi, seorang pakar Studi Iran, menyebut media Barat sebagai mesin ideologis yang membentuk persepsi global mengenai Iran. Baginya, pemberitaan tentang Iran sering kali tidak berdiri sendiri sebagai upaya memahami realitas, melainkan menjadi bagian dari narasi politik dan propaganda. Dabashi bahkan menyebut surat kabar The New York Times sebagai perpanjangan dari mekanisme propaganda yang terus memproduksi citra musuh bagi kepentingan geopolitik tertentu. Misalnya, isu program nuklir Iran sering kali memperoleh sorotan yang jauh lebih besar dibandingkan tragedi kemanusiaan di Palestina. 

Dalam Iran Without Borders: Towards a Critique of the Postcolonial Nation (2016). Dabashi mengajukan gagasan bahwa Iran tidak dapat dipahami semata-mata sebagai sebuah negara-bangsa. Baginya, konsep negara-bangsa modern merupakan warisan kolonial yang dipaksakan kepada banyak masyarakat Asia dan Afrika. Sebaliknya, Dabashi menawarkan gagasan Iran sebagai sebuah peradaban yang melampaui batas-batas geografis. Iran tidak hanya hidup di Teheran, Isfahan, atau Shiraz, tetapi juga di Los Angeles, London, Paris, Toronto, hingga Sydney. Orang Iran yang hidup di pengasingan tidak kehilangan ke-Iran-annya hanya karena berpindah paspor atau kewarganegaraan. Identitas Iran adalah pengalaman historis, kebudayaan, bahasa, seni, dan memori kolektif yang melampaui batas negara. 

Diaspora bukan sekadar komunitas yang terus mengenang tanah air, melainkan produsen aktif identitas Iran di tingkat global.Dalam konteks inilah, pemakaman Khamenei memperoleh makna yang lebih luas. Tangisan ribuan warga di Teheran bukan hanya peristiwa domestik sebuah negara, melainkan juga menggema di kalangan diaspora Iran di berbagai belahan dunia. Pada akhirnya, air mata di pemakaman Khamenei maupun air mata yang membasahi wajah para pemain Cabo Verde mengajarkan satu hal yang sama: kemanusiaan selalu lebih rumit daripada narasi yang berusaha menyederhanakannya. Tangisan bukan sekadar ekspresi politik atau euforia olahraga, melainkan bahasa universal yang lahir dari sejarah, memori kolektif, keyakinan, kehilangan, pengorbanan, dan harapan yang terakumulasi dalam perjalanan sebuah bangsa. Karena itu, memahami Iran, menuntut keberanian untuk keluar dari lensa Barat yang selama ini mereduksi realitas sebenarnya. Demikian pula, memahami Cabo Verde berarti melihat lebih dari sekadar kisah sepak bola; ia adalah cerita tentang diaspora, identitas, ketekunan, dan impian sebuah bangsa kecil yang akhirnya memperoleh pengakuan di panggung dunia. 

Muhammad Said, Ketua STAI Darul Kamal Lombok Timur

Tags: #cave verde#Fifa#iran#khamenei#WorldCup2026
SendShareTweet

BeritaLainnya

No Content Available

Berita Rekomendasi

Kurangi Ketimpangan Ekonomi Kestrem, 350 Indonesia Tawarkan Skema Windfall Tax

Kurangi Ketimpangan Ekonomi Kestrem, 350 Indonesia Tawarkan Skema Windfall Tax

Mei 30, 2026
3.3k

Pedoman Media Siber

Mei 15, 2025 - Updated On Mei 26, 2025
3.3k

Instagram Is Testing Photo Albums, Because Nothing Is Sacred Anymore

Maret 7, 2025
3.3k

Berita Popular

  • Aktivis Energi Terbarukan Indonesia Bertemu Duta Besar RI di Brasil Jelang COP30, Serukan Aksi Iklim Ambisius

    Aktivis Energi Terbarukan Indonesia Bertemu Duta Besar RI di Brasil Jelang COP30, Serukan Aksi Iklim Ambisius

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Adat Nunas Nede, Cara Warga Kesik Menjaga Air di Tengah Ancaman Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bali Blackout, Ini Tawaran Solusi Dari 350 Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Program Pemberdayaan Digital Bagi UMKM Perempuan dan Pemuda Pemerintah Inggris dan BRI Reseacrh Institute Jakarta, Resmi diluncurkan di Lombok.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Aksara Publisher: Mengukir Jejak Literasi dari Lombok Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Home
  • Warta
  • Liputan Khusus
  • Kolom
  • Infografis
  • Tentang Kami

Copyright © 2025 tebetutur.id - Made with 💛 by Erwin Pibrianto.

No Result
View All Result
  • Home
  • Warta
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Liputan Khusus
    • Sosial
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Lingkungan
  • Kolom
  • Infografis
  • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 tebetutur.id - Made with 💛 by Erwin Pibrianto.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?